Al-Jabbar yakni yang memiliki sifat jabarut. Dalam salah satu doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan sahabat ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

“Aku berdiri (shalat) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Ketika ruku’ beliau tetap diam seukuran surat Al-Baqarah. Beliau mengatakan dalam ruku’-nya: ‘Maha suci Yang memiliki Jabarut, kerajaan (pengaturan), kesombongan, dan keagungan’.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shifat Shalatin Nabi, hal. 133)
Adapun makna Al-Jabbar secara ringkas seperti yang disampaikan oleh Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu yaitu: “Yang Maha Tinggi dan Tertinggi, juga bermakna Yang Memaksa, dan bermakna Ar-Ra`uf Yang kasih sayang, Yang memperbaiki kalbu yang redam, memperbaiki yang lemah dan tidak mampu, serta yang berlindung kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 946)
Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan: “Yang memperbaiki urusan makhluk-Nya, Yang mengatur mereka dengan sesuatu yang maslahat bagi mereka.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir, 4/367)
Al-Harras rahimahullahu menyebutkan bahwa Ibnu Atsir rahimahullahu mengatakan: “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Jabbar. Artinya adalah Yang memaksa hamba-hamba sesuai yang Dia maukan, baik berupa perintah atau larangan… Dikatakan pula bahwa maknanya adalah Yang tinggi di atas makhluk-Nya… Di antara ungkapan orang Arab Nakhlah Jabbarah yakni pohon korma yang besar, yang tangan tidak dapat menjangkaunya.”
Ar-Raghib dalam kitabnya Al-Mufradat mengatakan: “Asal maknanya adalah memperbaiki sesuatu disertai semacam paksaan… Adapun apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sifatkan semacam Al-’Aziz Al-Jabbar Al-Mutakabbir, maka dikatakan bahwa Allah dinamai dengan nama itu dari ungkapan jabartu al-faqir artinya aku memperbaiki keadaan orang faqir. Karena Allah, Dialah yang memperbaiki manusia dengan nikmat-Nya yang melimpah. Dikatakan pula, karena Dia memaksa manusia kepada kehendak-Nya.”
Al-Harras rahimahullahu juga mengatakan bahwa Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutlan tiga makna, yang semuanya masuk dalam makna nama tersebut, di mana dibenarkan masing-masing makna tersebut dimaukan darinya :
Salah satunya bahwa Dialah yang memperbaiki kelemahan hamba-hamba-Nya yang lemah, dan Yang memperbaiki kalbu yang merasa redam di hadapan-Nya, yang tunduk di hadapan kebesaran-Nya dan keagungan-Nya. Betapa banyak kalbu yang redam lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala perbaiki, yang fakir lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kecukupan, yang hina lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan, yang kesusahan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala hilangkan kesusahannya, yang kesulitan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemudahan. Dan betapa banyak orang yang terkena musibah lalu Allah ta’ala perbaiki dengan memberinya taufiq untuk kokoh dan sabar, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ganti karena musibahnya dengan pahala yang besar. Maka hakikat makna Jabr adalah memperbaiki keadaan hamba dengan melepaskannya dari kesulitan, serta menghilangkan darinya kesusahan.
Makna (kedua) bahwa Dia Yang Maha memaksa, yang segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya, yang semua makhluk tunduk kepada keagungan-Nya dan keperkasaan-Nya. Maka Dia memaksa hamba-hamba-Nya kepada apa yang Dia kehendaki berupa sesuatu yang sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan kehendak-Nya. Maka mereka tidak dapat lepas darinya. Makna yang ketiga bahwa Dia yang Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak seorangpun mendekat kepada-Nya.

Dengan mengetahui nama Al-Jabbar dan sifat Jabbarut, maka seorang hamba akan bertambah keyakinannya untuk meminta pertolongan kepada Allah yang Maha Memperbaiki, Maha Memaksa sesuai Hikmah Kebaikan-Nya dengan berdo’a atas semua masalah yang dihadapi sebagaimana pun kesulitan yang dihadapi, berbagai tekanan dari kezhaliman orang-orang yang memiliki kekuatan dan keperkasaan.  Hal ini karena apabila Allah berkehendak maka Dia Maha Mampu untuk melaksanakannnya, menolong hamba-Nya, bahkan dapat memaksakan kepada para hamba-Nya , siapa pun dia, seperkasa apapun hamba-Nya dengan hikmah-Nya. Dengan nama Al-Jabbar juga, seseorang akan semakin bertawakkal atas usahanya, karena jika Allah berkehendak  memudahkan maka Allah dapat dengan mudah memudahkan, jika Allah berkehendak lain, maka dia yakin bahwa Allah menginginkan kebaikan dengan hikmah-Nya yang tidak diketahui oleh hamba-Nya. Wallahu a’lam Admin.
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa,
Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci,
Allah dari apa yang mereka persekutukan.
(QS Al Hasyr 59: 23)
Al Jabbar secara lughoh bisa bermakna ketinggian, keagungan, atau istiqamah.  Sedang al jabbar bila dinisbatkan kepada Allah bisa bermakna “ketinggian atau keagungan sifat yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun”. Ada juga yang memaknai al jabbar sebagai yang maha tinggi yang memaksa semua yang rendah untuk tunduk patuh kepada-Nya. Dari sini kemudian muncul makna baru dari al jabbar yakni Yang Maha Pemaksa, Yang Kehendaknya Tidak Diingkari, atau Yang Maha Perkasa.
Allah Yang Maha Pemaksa ketika menciptakan langit dan bumi memerintahkan keduanya datang dengan patuh atau terpaksa. Mareka menjawab: “Kami datang dengan patuh.” (QS Al Fushilat 41: 11). Pada hakekatnya di dunia ini tidak ada makhluk yang mampu menentang kehendak Allah. Semua berjalan sesuai dengan sunnatullah. Seseorang bisa lari dari satu sunnatullah, tetapi dia pasti menuju sunnatullah yang lain. Orang yang mengikuti sunnatullah dan berjalan di atas syari’at-Nyalah yang dikatakan sebagai orang yang tunduk patuh kepada-Nya.
Di sisi lain jabbar juga bisa bermakna yang menumbuhkan dan memperbaiki sehingga keadaannya kembali seperti semula. Dalam konteks ini Allahlah yang dapat menumbuhkan kembali semangat manusia yang hancur karena mengalami goncangan batin yang disebabkan oleh kematian anggota keluarga, kebangkrutan bisnis, bencana alam dan sejenisnya. Kefahaman manusia akan kecilnya nilai dunia dibanding dengan akherat akan menumbuhkan kembali kesadaran bahwa apa yang hilang darinya tidaklah bermakna di hadapan Allah. Dunia ini hanya bersifat sementara, sedang  kehidupan akheratlah yang kekal. Akan tumbuh semangat untuk mengejar akherat dan melupakan apa yang telah hilang. Allah juga yang dapat memperbaiki kehancuran akhlak manusia kembali kepada fitrahnya bertauhid seperti ketika berada di dalam kandungan ibunya (QS Al A’raf  7: 172).
Imam Ghazali sifat Allah Yang Maha Pemaksa ini dapat pula diteladani oleh manusia terpuji seperti Rasulullah saw. Karena kemuliaan akhlaknya Rasulullah saw, maka para sahabatnya mencintainya, menghormatinya, menempatkannya pada posisi yang amat tinggi, dan mengikuti pola hidupnya. Dengan sikap dan keteladanannya Rasulullah saw secara tidak langsung memaksa para sahabat untuk mengikuti perilakunya dalam kehidupan sehari-hari dan mengadopsi pola hidup Islam yang diajarkannya. Dalam hal ini Rasulullah tidak mengambil manfaat tetapi memberi manfaat, beliau mempengaruhi tidak dipengaruhi, dan beliau diikuti tidak mengikuti.
Kita dapat meneladai sifat jabbar dengan memperbaiki kualitas akhlak hingga ke tingkat akhlak mulia. Dengan akhlak mulia inilah kita memberi keteladanan hidup kepada keluarga kita, sehingga anak dan istri menghormati. Penghormatan anak istri karena kemuliaan akhlak kepada rumah tangga akan menjadi kunci sukses dalam membangun keluarga yang berhias sakinah, mawaddah, wa rahmah. Kamuliaan akhlak seorang kepala rumah tangga secara tidak langsung akan mengundang penghormatan anggota keluarga dan menggerakkan hati mereka untuk mengikuti kebijakan-kebijakan yang digariskannya untuk keluarganya. Begitu pula yang akan terjadi bila kepala kantor, kepala perusahaan, kepala daerah, dan kepala negara berakhlak mulia. Kemuliaan akhlak seorang pimpinan akan menumbuh-kan rasa cinta bawahannya, mengundang penghormatan mereka, dan mengikuti kebijakannya dengan penuh kesadaran. Yang perlu kita fahami adalah kemuliaan akhlak ini hanya dapat dicapai dengan Islam. Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaihi.
Iklan